[FIKSI] - MENCOBALAH
Hujan rintik, aku mengendarai pelan mobilku. Setelah aku pikir, betapa bodohnya apa yang aku lakukan ini, tengah malam nekat ke kafe (yah, kafe kecil tepatnya, diujung komplek perumahanku). Aku memakirkan mobilku, mematikan mesin, dan mengambil buku yang aku baca sebelum ide tolol ini datang. Aku menutup kepalaku dengan jaket, lalu berlari kecil menuju kafe yang dengan pencahayaan temaram. Sudah sepi.
Saat aku membuka pintu, bunyi gemerincing mainan berasal dari alumunium menyambutku. Aku melihat sekeliling, hanya ada satu penjaga kafe, dan laki-laki duduk membelakangi pintu.
“Hai, Tris, seperti biasa!” Kataku
“What are you doing here ?” Tris dengan muka sedikit mengantuk sedikit kaget.
“Drink some cup of tea! Anything else ? Aku mengangkat bahu.
"In the midnight ?” Matanya menatapku tetapi tangannya sibuk meracik pesananku.
“Please, Tristan. This city not Ansterdam, gue jogging tengah malam juga gak ada yang bakalan macem-macem.” Aku membuka buku, dan duduk di kursi depan bartender.
“Iya, tapi gue takutnya Elo kenapa-kenapa pas lagi nyetir.” Sambil menyerahkan pesananku.
“Thank you, Tris. But I am fine with the kaffein!” Aku mengangkat Cup ku tinggi-tinggi.
“Did you see that boy ? Dia nggak beranjak dari meja itu sejak pukul 9 malam.” Tris berbisik di telingaku.
“Are you afraid ?”
“No! Tapi aneh gak sih ? Dia udah pesan tiga black coffie. Gue curiga dia gak punya uang buat bayar.” Ujar Tris
Aku menoleh ke arah lelaki itu, susah mengenalinya, karena dia memunggungiku. Aku putuskan untuk duduk di meja samping mejanya dengan posisi aku melihat ke arah Tris, jadi aku bisa melihat wajahnya. Saat aku berjalan, Tris memanggilku dengan berbisik. Tapi aku tidak peduli, dia hanya paranoid karena pernah tinggal di Belanda selama lima tahun. Long story kalau mau di ceritakan.
Aku duduk, tapi masih belum melihat wajahnya, menyeruput teh ku, dan kembali membaca buku.
15 menit berlalu.
"Kamu percaya kalau orang meninggal, dia akan menjadi salah satu bintang di langit ?”
Aku mendongak, kaget, lalu menoleh ke aras Tris, dia masih duduk ditempatnya sesekali menguap dan mengacuhkan kami berdua. Kalau bukan Tris berarti orang yang disampingku. Aku menoleh ke arahnya, pandangannya mengarah dinding kaca yang ada dibelakangku.
“Bicara padaku ?” Aku bedeham agar suara ku jernih kembali, kebanyakan diam akan merubah suara kita. Itu mengapa, waktu pagi hari, suaramu seperti orang mabuk.
“Apa kelihatannya ada yang lain, selain kita.” Dia tersenyum.
Aku nyengir
“Pertanyaanku belum dijawab.” Katanya sambil menyeruput kopinya yang aku rasa sudah dingin.
Aku memutar bola mataku, kembali membaca buku.
“Aku tidak tahu.” Aku menjawab sambil terus menatap (tidak membaca) bukuku.
“Coba lihat kebelakangmu, bintang malam ini indah sekali.” Katanya lagi.
Aku menoleh kebelakang sebentar, dan kembali menatap buku.
“Aku baru tahu ternyata teh mengandung kafein.” Ucapnya. “Apa yang membuatmu kemari ?”
“Menjemput penyakit.” Aku menjawab sekenanya.
“Kalau begitu kita sama.” Dia mengangkat cangkirnya dan menunjukan ke arahku. Aku menoleh dan tersenyum.
Apa ? Apa yang aku lihat tadi ? Berlian kah ? Atau bintangkah ? Tapi aku yakin, itu adalah bagian dari tubuhnya, matanya. Matanya biru hampir abu-abu, menyala di lampu yang temaram ini. Matanya seindah itukah ? Aku menoleh lagi.
“Kata Tris, kamu sudah dari jam sembilan disini ?” Aku menoleh, dia menoleh? Sudah aku pastikan itu mata dia. “Apa kamu tidak punya uang untuk membayar tiga gelas kopimu ?”
Dia tertawa. “Aku suka duduk disini, tempat ini bintangnya indah sekali.”
“Bukannya kamu melihat bintang dimana aja, tetap sama, ya ?”
“Beda, bahkan di kota ku dulu, aku tak pernah melihat kemunculan bintang, karena polusi cahaya.”
“Mengerikan!”
“Oh, ya. Kenapa kamu suka minum teh ?” Katanya sambil melihat cup-ku.
“Enak, gak terlalu manis tapi gak terlalu pahit. Menenangkan.”
“Kamu harus mencoba kopi.”
“Aku gak suka kopi, apalagi hitam, tanpa gula, pahit.”
Dia tertawa. Dan aku barus sadar, caranya tertawa, khas.
“Itulah hidup yang sebenarnya, hitam dan pahit.”
Aku tertawa, dia mengangkat bahu.
“Kalau hidup kita lurus, kita tidak akan pernah merasakan pahit.”
“Pepatah darimana itu ? Gak ada hidup yang lurus.” Apa kau gak pernah merasakan pahitnya hidup ?“
Aku menggeleng.
"Hebat! Tapi aneh.”
“Gak ada yang aneh kalau kamu tidak pernah memikirkannya. Hal kecil yang membuat hidupmu pahit, akan menjadi selamanya pahit jika kamu terlalu bodoh untuk selalu menikmatinya, padahal gula selalu tersedia untukmu.”
“Tapi kamu harus mencoba kopi hitam ini.” Dia menunjuk cangkirnya.
Aku menggeleng.
“Kamu harus mencoba teh ini.” Kataku.
Dia menggeleng.
“Mencobalah!” Kami mengucapkannya berbarengan. Lalu tertawa terbahak-bahak. Membuat Tris terganggu.
“Hei, Bitch! What time is it ? I wanna close this kafe, gue ngantuk Becca!” Tris berkacak pinggang.
“Asshole! Five minute again, Tris.” Kataku.
“Jadi apa yang membuatmu datang kesini ?” Katanya
“Patah hati!” Aku menjawab lalu tertawa terbahak-bahak. “And you ?”
“Mencoba untuk membuat hatimu utuh kembali” Dia tertawa lebih keras.
“Okey, mencobalah” aku tertawa sampai perutku keram.
“Hei, gue udah ngantuk, please dong!” Tris mulai mematikan lampu-lampu meja.
“Oke, Tris. I am back home.” Kataku sambil menutup buku, dan berdiri.
“Wait, besok kita bisa ketemu lagi ?” Kata laki-laki itu.
Aku tersenyum. Mustahil, aku bukan penganut aliran cinta kilat. Jikapun aku datang besok, bukan berarti aku tertarik padanya. Tunggu dulu, kenapa aku jadi ke ge-er-an.
Aku benar-benar pulang sekarang. Dan kami di jalan pulang yang berbeda. Dia tersenyum sebelum kami berpisah.
Mustahil, kata otakku
Mencobalah, kata hatiku.
Komentar
Posting Komentar