[LIFE STORY] - KITA SAMA - SAMA BERSANDIWARA


Siapa yang paling bisa memahami dirimu?

Ya, dirimu.

Terutama aku. Yang masih amat sangat tertatih memahami diri sendiri.

Hubungan laki – laki dan perempuan tidak pernah sederhana. Kau harus membagi waktumu untuk dirinya dan waktumu untuk dirimu sendiri. Menerima keluh kesahnya, baik buruk pasanganmu, dan masih banyak lagi, paham yang tak sependapat tapi harus kau terima dengan lapang dada dengan alasan cinta, kesetiaan, dan kepercayaan.

Bagiku, keputusan setahun yang lalu, untuk membagi waktuku dengan orang lain mungkin keputusan yang tidak perlu disesali, walaupun sedikit sering menggerutu dibandingkan bersyukur, banyak hikmah yang akan diambil jika dipikir ulang.

Entah berapa tahun aku menyindiri, mencintai diri sendiri, yang akupun bingung apa yang sebenarnya diri ini mau. Sampai akhirnya, aku bertanya – tanya sebenarnya apakah cinta itu ada? Atau hanya sekedar nyaman dan terbiasa bersama.

Setahun kebelakang aku mencoba membagi waktu, untuk seseorang yang katanya mencintai aku. Yah, betul saja, waktu aku tersita hanya untuknya, lebih tepatnya seluruh pikiranku selalu tentang dia, dia, dan dia. Aku pikir aku gila, hingga aku ingin mencari pertolongan, yang tidak aku temukan. Aku kehilangan diri aku sendiri.

Setiap menit, pesan singkat darinya itu penting. Sedang kerja, memikirkan apa yang sedang dia kerjakan disana. Baik – baik sajakah? Bahagiakah? Sulitkah pekerjaannya? Apakah dia sudah makan yang benar hari ini? Pikiran – pikiran klise yang tak mungkin dia pikirkan tentang aku. Semakin hari, pesan singkatnya tak sehangat dulu, hanya sebatas basa – basi formalitas, aku merasa itu. Katanya, kesibukan yang membuatnya seperti itu. Aku mengiyakan saja. Aku tau dia mulai menjauh dan berubah. Tapi aku tak tau letaknya dimana kesalahan itu, aku masih menganggapnya wajar, karena kita memang sudah saling mengenal satu sama lain. Aku menjadi ketergantungan dengan kabar darinya.

Pikiran – pikiran buruk mulai bermunculan, aku berpikir apakah ini wajar? Ada yang aneh dengannya, tatapan matanya tak semenarik dulu. Bahkan pada suatu hari aku mendapatinya menatapku dengan kasihan, hatiku tak karuan. Setiap hari aku membayangkan dia, apakah dia mengirimi pesan singkat ke perempuan lain kah? Hanya ada aku kah di hatinya? Keraguan itu selalu hadir. Setiap waktu, setiap jam, setiap menit, setiap detik, ataupun jika ukuran waktu itu tidak bisa disebutkan. Setiap kali berulah, ntah itu tiba – tiba menghilang, ntah itu sandiwara – sandiwara lain yang dia perankan.

Aku yang hanya mengandalkan firasat, tak punya bukti untuk menyudutkannya. Dan dia, selalu punya alasan terbaik untuk meminta maaf, memegang kedua tangan dengan hangat, menatap dengan tatapan sendu. Aku tau, Dia hanya bersandiwara, aku tau dari setiap geriknya yang berusaha dia hapalkan. Dan berulang kali, setiap melakukan kesalahan, selalu berkata “ Aku juga manusia, yang pastinya punya salah. Tapi aku sedang berusaha untuk berubah menjadi lebih baik, percayalah.” Iya aku percaya, tapi apakah dia tak tau kalau aku juga manusia yang bisa muak dengan semua sandiwara itu.

Entah sudah berapa lama  tekadang hatiku dan mulutku dan otakku selalu bertentangan. Tak seperti dulu, saat aku hanya melihat ketulusan disetiap geraknya. Aku bertahan, mengikuti setiap alur permainannya, mengamati. Aku juga bersandiwara, berpura – pura menjadi manis, saat aku benar – benar ingin meledak. Aku juga berpura – pura tertawa disetiap obrolan yang sudah lagi tak semenarik dulu. Aku berpura – pura menyemangatimu dengan kata – kata yang sekali lagi tidak seusai dengan kata hatiku. Dia tidak akan pernah tau apa sebenarnya yang ingin aku teriak. “Aku muak dengan sandiwaramu.”

Dia dengan keluh kesahnya, dengan berpura – pura menjadi manusia paling penyakitan, dengan berpura – pura menjadi manusia paling malang di dunia ini. Aku tak tau harus berbuat apa. Memutuskan hubungan, agar aku bisa hidup tenang? Aku tidak semudah itu, atas dasar sandiwara, aku tak ingin memutuskan hubungan dengan orang yang tengah terpuruk, yang kau kira begitu. Aku harus punya bukti, ataupun pengakuan yang sangat kuat untuk mencukupkan perasaan ini. 

Tapi dia tak pernah tau, bahwa aku juga manusia yang punya batas sabar. AKU SUDAH MUAK!

Aku tak ingin memutuskan hubungan lagi, tak ingin. Karena lagi – lagi aku takut apa yang orang katakan tentangku. Ternyata setelah aku pikir – pikir, menjalin hubungan dengan laki - laki itu hanya salah satu tujuanku untuk membungkam apa yang orang katakan padaku bahwa aku terlalu sombong dan pemilih. Padahal kalau kalian tau aku hanya tak ingin membagi waktu dengan orang lain. Kalian lihatkan bagaimana aku mengubur impianku tahun lalu. Sifat burukku adalah totalitas dalam sesuatu sampai buta. 

Aku tak mencari kambing hitam dalam hal ini, tapi ya inilah sifat manusia aku. Aku memang terlalu nyaman dengan kesendirian. Tapi tak pelak, saat melihat teman – teman lain menikah, punya anak, dan punya keluarga kecil yang bahagia aku juga iri.

Sekarang aku percaya, bahwa setiap perkataan adalah do’a, maka aku akan selalu berdo’a, semoga suatu hari ada laki – laki yang benar – benar mencintai tanpa harus merubah jati diri aku yang sebenarnya. Mencintai tanpa ada perasaan ragu dalam diri aku, mencintai tanpa ada rasa khawatir yang berlebihan, mencintai tanpa ada rasa kasihan di sudut matanya.

Tak perlu ada yang disesali tentang kisah kemarin, maaf ternyata aku juga sama, sama bersandiwaranya denganmu. Tapi aku juga bahagia, bisa membuatmu jujur dengan dirimu sendiri dengan pengakuan yang membuat aku terpana, ternyata firasat dari awalku tak pernah salah. Firasat bahwa aku bukan satu – satunya wanita yang kau pacari. Tapi aku bertahan, mengamati, tanpa menyakiti berlebihan untuk diriku sendiri, bagaimanapun juga aku tak mau lagi berhubungan dengan orang sepertimu. Aku bodoh iya, menjebak diri aku untuk mengamati suatu sifat sesorang. Takkan lagi aku ulang kesalahan itu.


Maaf ya, kau tak pernah tau cerita yang sebenarnya tentangku, kau anggap aku bodoh, tapi kau yang lebih bodoh. Percaya kalau aku terpuruk karenamu, padahal firasatku sudah tau semua tentangmu, dan hanya bukti saja yang belum cukup untuk mengubur semua rasa, jadi aku mengikuti semua sandiwaramu.

Tapi ya, adalah sedikit rasa cinta aku ke kamu, sedikit itu karena kamu memang pernah tulus yang kulihat dari matamu, bukan dari omongan orang lain.

Terima kasih dan maaf, ternyata kita sama – sama bersandiwara.

“You say I’m crazy, ‘cause you don’t think I know what you’ve done, But when you call me Baby, I know I’m not the only one.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[FOOD STORY] - MAKAN BEBEK PERTAMA KALI

[FIKSI] - MENCOBALAH