Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

[FIKSI] - BAGAIMANA AKHIRNYA

      “Arrrggghhhh” aku mengerang sambil mengusap air mata.       “Kau kenapa ?” Kata Reno, sahabatku yang sedari tadi bolak-balik bertanya hal yang sama.       “Mengapa Augustus Waters harus mati, harusnya dia bisa hidup lebih lama lagi, harusnya dia bisa menikah dengan Hazel Grace, lalu punya anak yang lucu, dan walaupun pada akhirnya mereka berdua meninggal karena kanker itu, tapi setidaknya mereka berdua punya sesuatu yang membuktikan bahwa mereka pernah bersatu.” Kataku panjang lebar.       “Kau selalu begitu, selalu saja tidak terima jika buku yang kau baca berakhir dengan tidak bahagia.” Reno mengambil buku yang baru saja aku baca. “Akan aku coba baca buku ini, lalu kita bahas bersama-sama.” Ujarnya, lalu menyimpan buku itu ke dalan tasnya. “Kau haus ?” Katanya.       “Yap, aku butuh segelas greentea latte dingin, untuk mengembalikan air mataku yang hilang tadi.” Kataku, lalu aku menyambut...

[FIKSI] - TUAN NONA KESEPIAN

      T uan kesepian, tak punya teman, hatinya rapuh, tapi berlagak tangguh       Namanya Gio, dia salah satu laki-laki yang tak berkawan, bukan tak berkawan dalam artian dia tidak punya teman, tapi dia tidak punya kawan untuk mencurahkan rasa sayangnya kepada lawan jenis. Wajahnya tidak buruk, kehidupannya juga termasuk beruntung, dia kerja di salah satu perusahaan swasta terbesar di Negara ini, sudah mapan, gajinya sudah lebih dari cukup untuknya sendiri.        "Jangan terlalu pemilih, Bro. Nanti gak nikah-nikah baru tau rasa.”       Kuping Gio panas mendengar perkataan Kevin yang setiap hari itu-itu saja.        "Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, masih belum terlalu mikir untuk nikah, masih terlalu muda, Bro.” Gio menyeruput Es Teh manisnya sampai habis, lalu pergi meninggalkan Kevin, yang masih asyik dengan mie ayamnya.      Gio berjalan menyusuri tam...

[FIKSI] - SINGKAT

      Kita takkan pernah tau, kenapa kita bisa jatuh cinta. Kita juga takkan tau kepada siapa kita jatuh cinta       Udara dingin menusuk-nusuk tulang di pagi musim kemarau. Sedari tadi aku merapatkan jaketku, secangkir kopi di sebelah tanganku, mesin laptop berdesing dipangkuanku. Pagi ini, seperti pagi-pagi kemarin, aku mencoba mencari inspirasi, lari dari keramaian yang merusak konsentrasiku, untuk menyelesaikan hutang tulisan kepada editorku yang rasanya ingin aku makan Dia hidup-hidup. Lalu, seperti ada sesuatu yang menuntunku, aku memilih di tempat ini, di taman belakang rumah sakit kota. Tak banyak yang tau tempat ini, selain yang sedang ada dirumah sakit, dan aku juga baru mengetahuinya ketika aku menemani kakak perempuanku yang dirawat inap tiga bulan yang lalu disini.       Jam 7.30        Jantungku berdetak lebih kencang, baru tiga hari disini, aku hampir hapal semua rutinitas yang terjadi. Bunyi ku...

[FIKSI] - GADIS SENJA

      Laki-laki itu mengayuh sepadanya dengan kencang, sudah menjadi kebiasaannya, di setiap senja untuk membawa pulang sisa jualan mamaknya dari pasar. Angin laut menerpa wajahnya, membuat laki-laki itu harus memcingkan mata. Lalu, setibanya di tepi pantai, dia berhenti sejenak untuk melihat hal yang paling di senanginya, yaitu senja.       Seperti hari-hari biasa, senja selalu saja indah, kalau tidak mendung, matahari akan terlihat bulat, lalu perlahan dia turun untuk kembali ke pangkuan langit. Suasana ke emasan mewarnai senja, air laut yang tenang dan jernih tengah memantulkan lukisan langit, lalu camar melenguh dari kejauhan, suara gesekan daun nyiur yang di terpa angin.       “senja yang sempurna.."gumam laki-laki itu, dia  meluruskan kakinya, membiarkan pasir-pasir pantai mengotorinya. Rambutnya yang sedikit panjang, dimainkan oleh angin, tapi dia membiarkannya.       Pantai ini sepi, karena d...