[FIKSI] - SINGKAT

      Kita takkan pernah tau, kenapa kita bisa jatuh cinta. Kita juga takkan tau kepada siapa kita jatuh cinta

      Udara dingin menusuk-nusuk tulang di pagi musim kemarau. Sedari tadi aku merapatkan jaketku, secangkir kopi di sebelah tanganku, mesin laptop berdesing dipangkuanku. Pagi ini, seperti pagi-pagi kemarin, aku mencoba mencari inspirasi, lari dari keramaian yang merusak konsentrasiku, untuk menyelesaikan hutang tulisan kepada editorku yang rasanya ingin aku makan Dia hidup-hidup. Lalu, seperti ada sesuatu yang menuntunku, aku memilih di tempat ini, di taman belakang rumah sakit kota. Tak banyak yang tau tempat ini, selain yang sedang ada dirumah sakit, dan aku juga baru mengetahuinya ketika aku menemani kakak perempuanku yang dirawat inap tiga bulan yang lalu disini.

      Jam 7.30 

      Jantungku berdetak lebih kencang, baru tiga hari disini, aku hampir hapal semua rutinitas yang terjadi. Bunyi kursi roda berderit pelan dari pintu keluar rumah sakit, dari ujung mataku, aku melihat gadis itu, ah iya, gadis yang nyaris membuyarkan semua imajinasiku. Dia berusaha keras menjalankan kursi rodanya, tanpa bantuan perawat. Lalu, dia selalu duduk di depan kolam ikan kecil di ujung taman, termangu, membiarkan angin memainkan rambutnya yang tergerai panjang. Aku bisa melihatnya dengan jelas, wajahnya pucat, tapi masih terlihat cantik dimataku, bibirnya kering, ada lingkaran hitam disekitar matanya. Sudah tiga hari ini aku ingin menyapanya tapi selalu dikalahkan oleh waktu yang berlalu terlalu cepat. 

      Jam 8.00

      Dia terbatuk-batuk, lalu menutup mulutnya dengan saputangan putih yang sebentar lagi akan berubah warna menjadi merah, dan dia akan segera beranjak dari tempat itu. Tapi kali ini, ada yang berbeda seperti biasanya, dia tersenyum kepadaku, dan mendekat. Aku berusaha tetap biasa saja, tapi hatiku tak bisa menyembunyikan perasaan.
     
      “hai, aku Lila, kamu ?” Dia mengulurkan tangannya.

      “eh, hmm aku Nino” lalu membalas uluran tangannya.

      “senang berkenalan denganmu Nino, aku harap ada namaku dalam bukumu.” Lila tersenyum dan memutar kursi rodanya, yang menyisakan seribu tanda tanya dalam benakku.

Aku janji Lila, kamu cepat sembuhlah.
                                                                                    ***

     Tiga bulan berlalu, selama Tiga bulan itu pula aku tak pernah lagi mengunjungi taman belakang rumah sakit, Satu bulan aku habiskan waktuku dengan mengejar hutang tulisan, sisanya untuk proses lain-lainnya, dan saat ini, satu buah buku dengan judul “LILA” sudah ada digenggamanku. Aku tersenyum puas, aku langsung berlari ke Taman belakang rumah sakit pagi ini.

     Jam 7.45

     Aku masih menunggu, sambil menyeruput kopi hangat di tangan kananku. Lalu menatap ke arah jalan masuk, tak ada apa-apa, hanya orang lalu lalang tapi bukan Dia.

     Jam 8.30

     Aku masih menunggu, kopiku telah habis dari tadi. Aku yang mulai bosan, memutar mp3 di handphone, dan mendengarkannya melalui earphone. Rasanya percuma, lagu takkan bisa memecahkan rasa bosanku. Aku beranjak menuju ke ruang informasi. Dan menanyakan hal ini kepada suster yang tengah menjalankan tugasnya.

    “Coba cari lagi, Sus alamatnya, namanya LILA, aku juga tidak tahu dia sakit apa, tapi kalau batuk dia mengeluarkan darah, umurnya sekitar 23 tahun.”

    “Maaf, mas tapi catatan kita tiga bulan yang lalu, tidak ada pasien yang bernama LILA, pasien meninggal yang wanita juga tidak ada dalam tiga bulan ini, dan kami juga tidak pernah menerima pasien dengan riwayat penyakit seperti yang Mas, sebutkan.”

     Aku membalikan badan, dan berjalan ke taman itu lagi. Mana mungkin aku berhalusinasi, Dia begitu jelas tersenyum kepadaku, menjabat tanganku. Aku duduk termangu di kursi taman, lalu aku melihat seutas senyum yang pudar diterpa angin, lalu benar-benar menghilang.

    Terimakasih telah menginspirasiku LILA.

    Jika kita tahu alasan kita jatuh cinta, itu bukan cinta, itu pandangan mata. Jika kita tahu kepada siapa kita jatuh cinta, apakah kita juga akan tahu kepada siapa yang akan melukai kita, dengan harapan-harapannya, dengan seribu tanda tanyanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[FOOD STORY] - MAKAN BEBEK PERTAMA KALI

[FIKSI] - MENCOBALAH

[LIFE STORY] - KITA SAMA - SAMA BERSANDIWARA