[FIKSI] - TUAN NONA KESEPIAN


      Tuan kesepian, tak punya teman, hatinya rapuh, tapi berlagak tangguh

      Namanya Gio, dia salah satu laki-laki yang tak berkawan, bukan tak berkawan dalam artian dia tidak punya teman, tapi dia tidak punya kawan untuk mencurahkan rasa sayangnya kepada lawan jenis. Wajahnya tidak buruk, kehidupannya juga termasuk beruntung, dia kerja di salah satu perusahaan swasta terbesar di Negara ini, sudah mapan, gajinya sudah lebih dari cukup untuknya sendiri. 

      "Jangan terlalu pemilih, Bro. Nanti gak nikah-nikah baru tau rasa.”

      Kuping Gio panas mendengar perkataan Kevin yang setiap hari itu-itu saja. 

      "Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, masih belum terlalu mikir untuk nikah, masih terlalu muda, Bro.” Gio menyeruput Es Teh manisnya sampai habis, lalu pergi meninggalkan Kevin, yang masih asyik dengan mie ayamnya.

     Gio berjalan menyusuri taman. Hatinya menggerutu, “apa iya, aku terlalu pemilih ?” Gio mengusap mukanya, menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, Dia kembali menatap danau yang ada dipinggir taman. Rumput-rumput masih terlihat basah, karena habis diguyur hujan tadi siang. Gemericik sisa hujan yang berjatuhan diatas danau, membuat irama alam, yang membuat Gio kembali kemasa lalunya.

     “Kita putus, Gio. Aku harus nikah sama laki-laki pilihan orang tua ku. ternyata mereka benar, kamu itu laki-laki yang tidak bisa diandalkan, lihatlah, sampai sekarangpun kamu belum kerja, padahal sudah satu tahun kamu lulus dari kuliah, lulus dengan nilai terbaik, apa gunanya ?”

      “Kamu harusnya bersabar, Rena. aku masih berusaha.”

      “Sudahlah, Gio. kau tak perlu berkata seperti itu, sudah ribuan kali aku mendengarnya, sudah bosan, Gio."  Renata menatap hamparan rumput ditaman, matanya berkaca-kaca.

      Mereka berdua terdiam, udara dingin sehabis hujan membuat hati yang telah beku, tetap membeku. membuat cinta yang telah lama terjalin, patah ditengah perjalanan.

     Sepenggal kisah masa lalunya kembali terlintas di benaknya, masa lalu yang akan dia coba kubur dalam - dalam.

     Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta, sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya

     Yasmin memboyong peralatan melukisnya, dia akan mencoba mencari inspirasi di taman kota ini. sudah satu tahun ini, dia tak pernah melukis lagi, kesibukannya sebagai karyawan baru di sebuah bank swasta membuat waktunya tersita banyak.

     Dia duduk di kursi tepi danau, matanya menangkap sebuah punggung, punggung yang enak untuk didekap. “mungkinkah dia pangeranku ?” Dia tertawa geli memikirkannya. Tangannya mulai menggambar sketsa si atas kanvas, menggambar sebuah punggung. “Ayah, aku merindukan punggungmu.” gumamnya dalam hati.

    Si pemilik punggung, berbalik badan. Yasmin yang sedari tadi menatapnya, menjadi salah tingkah. Dan yang lebih membuatnya gugup, dia baru saja melihat mata si pemilik punggung, matanya sedalam samudra, teduh, dan membuatnya tak mampu berpaling sedikitpun.

    Yasmin menggigit bibir bawahnya, dia meneruskan melukisnya. Sesekali dia menatap si pemilik punggung yang indah itu. “Ayah, apakah kau mengirimkan penggantimu ? lihatlah, betapa indahnya punggung itu.”

    Mereka berdua bertemu, di suatu sudut taman kota, bertatap tapi tak bicara, masing - masingnya menganalisa

    Merasa diperhatikan, Gio menjadi salah tingkah. Dia berjalan dan duduk disamping Yasmin yang sedari tadi sibuk dengan kanvasnya, padahal Gio tau, bahwa sedari tadi wanita itu memperhatikannya. Sesekali Gio menatap wajah Yasmin. Bagaikan ditusuk seribu jarum, Dia terperangah, betapa miripnya wajah wanita ini dengan Renata, mantan kekasihnya dulu. Dan lihatlah, bahkan senyumnya sama.

                                                                         ***
     Yasmin, menelan ludah, sedari tadi dia berusaha untuk tersenyum. Laki-laki ini sedari tadi telah mencuri perhatiannya, dari caranya menatap, caranya duduk, bahkan caranya diam pun mirip dengan seseorang yang selalu dalam khayalnya.

     "Kamu melukis apa ?” Gio memecah kesunyian diantara mereka, suara yang membuat tangan Yasmin mendadak tidak tahu caranya melukis.

     “Punggung..” Yasmin berusaha berbicara lebih keras, tapi yang muncul hanya bisik-bisik lirih.

     “Hmm.. Kalau ditambah latar  belakang matahari tenggelam, sepertinya lebih bagus.” Gio menambahkan.

      Jantung Yasmin berdegup lebih cepat, tak pernah dia duga bahwa sosok laki-laki yang hanya ada dalam khayalnya itu benar-benar menjadi nyata.

      Nona Jatuh Cinta pada Tuan, Tuan menunggu yang lain

      Seperti cinta yang tak pernah berbalas, mengagumi sebatas punggung, mendekap sebatas asa, itulah cinta yang hanya berada didalam khayal. Cinta yang tak pernah terwujud.

(Terinspirasi dari lagunya Tulus dengan judul Tuan Nona Kesepian)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[FOOD STORY] - MAKAN BEBEK PERTAMA KALI

[FIKSI] - MENCOBALAH

[LIFE STORY] - KITA SAMA - SAMA BERSANDIWARA