[FIKSI] - BAGAIMANA AKHIRNYA

      “Arrrggghhhh” aku mengerang sambil mengusap air mata.

      “Kau kenapa ?” Kata Reno, sahabatku yang sedari tadi bolak-balik bertanya hal yang sama.

      “Mengapa Augustus Waters harus mati, harusnya dia bisa hidup lebih lama lagi, harusnya dia bisa menikah dengan Hazel Grace, lalu punya anak yang lucu, dan walaupun pada akhirnya mereka berdua meninggal karena kanker itu, tapi setidaknya mereka berdua punya sesuatu yang membuktikan bahwa mereka pernah bersatu.” Kataku panjang lebar.

      “Kau selalu begitu, selalu saja tidak terima jika buku yang kau baca berakhir dengan tidak bahagia.” Reno mengambil buku yang baru saja aku baca. “Akan aku coba baca buku ini, lalu kita bahas bersama-sama.” Ujarnya, lalu menyimpan buku itu ke dalan tasnya. “Kau haus ?” Katanya.

      “Yap, aku butuh segelas greentea latte dingin, untuk mengembalikan air mataku yang hilang tadi.” Kataku, lalu aku menyambut lengan Reno yang sudah dia siapkan dari tadi.

      “Raya!” 

      “Yap”

      “Bagaimana kalau akhir hidup kita juga tidak bahagia, hmm maksudku hubungan kita berdua.”

      “Maksudmu ?” Aku berhenti berjalan.

      “Maksudku, bagaimana kalau suatu saat kita berpisah, kau dengan orang lain, dan aku dengan yang lain.”

      “Bukankah kita sudah membahasnya, bahkan waktu kita umur lima tahun, kita sudah mebahasnya, bagaimanapun juga, kita harus bersama selamanya.” Aku mengulurkan kelingkingku, mengulang perjanjian - perjanjian masa kecil kita berdua, lalu Renopun mengaitkan kelingkingnya untukku.

      “Apa kabar, pacarmu yang super gaul itu ?” Reno mencium keningku, aku merebahkan kepalaku di bahunya, sambil menyeruput green tea latte ku.

    “Dia, masih sama, masih saja cemburu padamu.”

    “Haha, kau tak ingin bertanya tentang pacarku ?” Ujarnya.

    “Oh, ya. Apakabar dia ?”

    “Dia akan menikah tiga bulan lagi.” Aku terkejut.

    “Kau, kau mau menikah tapi tidak memberitahuku ?” Aku nyaris menumpahkan minumanku.

    “Bukan denganku."ujarnya datar.

    "Brengsek! Aku sudah bilang, ke kamu Reno, lamar aku, maka kita akan berbahagia selamanya, aku mencintaimu, lebih dari seorang sahabat, atau apalah itu namanya, aku sudah bilang, semenjak umur kita masih lima tahun.

    "Raya, waktu umur lima tahun, kita masih belum tahu apa-apa. Kita masih belum mengenal apa itu perbedaan, yang kita tahu kala itu adalah perayaan hari besar agama kita yang berbeda, hanya itu.”

    “Bisakah kita membuat akhir cerita kita bahagia, Reno ?”

    “Entahlah. Aku hanya mencintaimu, tapi kita tak bisa bersama” Reno mengecup keningku, lalu bibirku untuk yang entah ke berapa kali selama aku bersamanya, selama dua puluh lima tahun.

    “Aku mencintaimu, juga.”

    “Selamanya”.

    “Raya, aku punya jawaban tentang bukumu itu !”

    “Hah ?”

    “Tadi kau bilang, harusnya mereka punya bukti untuk menunjukkan bahwa mereka pernah bersatu. Aku rasa, cinta tak perlu bukti untuk membuktikan bahwa dua orang pernah bersatu. Karena, yang merasakan cinta cukup hanya dua orang itu saja, tak perlu orang lain tau.”

    “Seperti, kita ? ”

    “Yap, seperti kita.”

   “Aku suka akhir yang tidak bahagia.” Ujarku. “Aku mencintaimu, walau akhirnya pun aku tau.”

   “Aku mencintaimu juga, Raya.” Reno menggenggam erat jemari tanganku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[FOOD STORY] - MAKAN BEBEK PERTAMA KALI

[FIKSI] - MENCOBALAH

[LIFE STORY] - KITA SAMA - SAMA BERSANDIWARA