[FIKSI] - PATAH HATI TERHEBAT
Pernah kau merasakan patah hati terhebat? Kapan? Dan dengan siapa?
Perempuan itu menatap layar komputernya lama. Merenung, membayangkan apa yang salah dengan dirinya sehingga dia mengalami patah hati sehebat ini. Pikirannya membawanya kembali kemasa lampau, dulu sekali saat dirinya tau bahwa laki – laki yang suka memainkan wanita itu hanya ada di buku yang dia baca atau drama yang dia tonton. Ini bukan pertama kalinya dia mengalami patah hati, memang. Tapi ini yang terhebat.
Satu – satunya laki – laki yang telah dia percaya mengkhianatinya seminggu yang lalu, oleh pengakuannya sendiri melalui pesan singkat. Hatinya hancur, bukan karena kehilangan, tapi karena kebohongan yang amat sangat rapi laki – laki itu simpan, kebohongan, kebohongan untuk pura – pura mencintai. Seketika dia merasa bodoh, kepercayaan kepada laki – laki yang telah lama tak dia punya, lagi – lagi diruntuhkan oleh laki – laki yang berpura – pura mencintainya.
Dia menghela nafas dan tersenyum mencibir dirinya sendiri lebih tepatnya mengasihani dirinya sendiri. “bodoh!” gerutunya dalam hati.
Tak ada yang lebih menyedihkan dari pura – pura dicintai.
Perempuan polos ini memang tidak banyak memiliki teman laki – laki. Dia tumbuh sebagai perempuan yang kaku, pemalu, dan penuh rasa curiga terhadap laki - laki. Dirinya yah, yang mungkin terlihat seperti pribadi yang gembira di sosial media, tetapi kalau di dunia nyata dia amat kaku, terutama saat bertemu dengan orang baru. Dan kalau ada laki – laki yang tiba – tiba mendekatinya dan menyukainya, ia selalu penuh curiga dan berkata dalam hati, “apa yang dia suka dari aku?”
Dan laki – laki itu tiba – tiba datang dalam hidupnya, melalui pesan singkat. Awalnya tak dihiraunya karena saat itu perempuan ini juga belum bisa melupakan masa lalunya dan ketakutan – ketakutan lainnya. Menghilang lalu kembali, dan kemudian hilang lagi, hingga pada suatu hari laki – laki itu memberinya buku Sepotong senja untuk pacarku karangan Seno Gumira Ajidarma, kehujanan dan tersenyum manis. Sebagai wanita yang sisi romantisnya amat sangat receh, akhirnya luluh. Tak ada bingkisan yang lebih manis dari buku bagi penyuka buku, kan?
Waktu berlalu, kerikil selalu ada dalam hubungan mereka berdua, berselisih paham lalu baikan, memaafkan lalu berpelukan. Saling menggenggam tanpa mau melepaskan, perasaan perempuan itu tulus terhadap laki – laki ini, tapi dia tau laki – laki ini punya seribu misteri yang takkan pernah mau perempuan ini cari. Baginya, cukup ada laki – laki ini disampingnya, beradu pendapat tentang kehidupan, menertawakan kebodohan hidup masing – masing, saling memasakan makanan kesukaan, dan beberapa kali menghabiskan waktu sore menikmati senja di pantai yang dulu menjadi tempat perempuan ini menyendiri. Yang penting baginya hanya satu, setia. Cukup, sesederhana itu.
“Kalaupun pada akhirnya tidak ada cinta lagi, tak perlu memaksakan, bilang saja. Tapi kalau sudah perihal berbohong dan selingkuh, kau bukan saja membohongi orang lain, kau membohongi dirimu sendiri, kau tak bisa membuat dirimu sendiri bahagia dengan pilihanmu, itu yang paling menyedihkan” Ujar perempuan itu, yang hanya disambut senyuman manis dan kata – kata “Aku setia.”
Tapi mana dia sangka, bahwa laki – laki ini bersamanya hanya berpura – pura, mungkin karena kasihan atau penasaran. Masih menjadi pertanyaan bagi perempuan itu sampai saat ini, apakah ada sedikit ketulusan dari hati laki – laki itu untuk perempuan ini, adakah? Sedikit, meskipun itu hanya sepotong senyum yang sekarang samar menghilang, adakah?
Selamat tinggal.
Komentar
Posting Komentar