[FIKSI] - PULANG part 1
Tanayu berdiri menunggu
kereta cepat MRT yang akan membawanya ke Harbour Front.
Pikirannya sedang tak karuan, dadanya sesak, matanya ingin
menumpahkan seluruh isi kepalanya yang sebentar lagi akan meledak. Dia
menatap kakinya, mencengkeram jari-jari tangannya sendiri, yang
merupakan pertanda bahwa dia sedang gugup dan kalut. Dia mengingat kembali apa
yang membuatnya sekalut ini, pesan singkat dari seseorang yang telah
dipercayainya. "Kita udahan aja, ya. Aku sudah punya yang
baru." Lalu, seseorang itu mengganti fotonya dengan
orang asing, yang selama ini Dia kenal sebagai sepupu seseorang itu.
Kaki Tanayu melangkah lesu saat pintu MRT membuka,
dia akan pulang, pulang ke rumah orang tuanya, pulang untuk
mendapatkan penjelasan dari semuanya, tapi ada satu yang janggal dari
pulangnya kali ini, rumahnya yang dulu, Rezan, yang Dia anggap
rumah selama ini, sudah porak poranda. Rezan memilih untuk pindah
rumah, sedangkan Tanayu kehilangan rumah. "Aku bisa
apa?" Tanayu berujar lirih, sambil mengusap matanya.
Kereta listrik itu
berhenti tepat di ujung Negara tempat Tanayu menghabiskan waktunya di kubikel
sebuah gedung tinggi sebagai perwakilan akuntan dari Indonesia di perusahaan
yang bergerak dalam bidang pengolahan limbah. Senin keesokan harinya,
iya terpaksa untuk ijin tidak masuk kerja, karena hari ini dia
pulang ke rumah. Vivo city, pemberhentian terakhir kereta
menuju Harbour Front sesak dengan manusia yang lalu lalang
bukan hanya oleh pendatang, tapi juga penduduk negara itu sendiri.
Kakinya melangkah cepat, secepat air matanya yang jatuh. Berjalan
menunduk, membungkuk meminta maaf saat menabrak seseorang.
Samar dia mendengar namanya dipanggil, hanya saja dia tak ingin
ditanya oleh siapapun hari ini.
Tanayu berjalan menuju
tempat pembelian tiket kapal cepat hari itu dan memasuki ruang tunggu. Kali ini
waktu seperti tak bersahabat dengannya, kalau kata orang sedetik rasa sewindu.
Dia menatap layar ponselnya, mengetik sesuatu tapi urung mengirim pesan
tersebut, mengetik lagi lalu dia menarik nafas panjang, dan mengirimnya.
"Ayo
kita ketemu, bawa pacar barumu dan bukuku."
Tanayu memasukan kembali ponselnya
setelah mengirim pesan singkat ke Rezan dan memberitahu Adiknya untuk
menjemputnya di pelabuhan satu jam kemudian. Dia menatap layar pemberitahuan
keberangkatan kapal, sudah saatnya masuk kedalam kapal. Lagi – lagi dia
mendengar suara yang memanggil namanya, tapi tak dihiraunya, lalu dia memasang headset. Sejenak dia ingin menghilangkan
pikiran kalutnya, Dia memutar lagu Panic!
At the Disco “high hope” entah sejak kapan genre lagu Alternative Rock malah membuatnya nyaman. Kapal melaju,
surya mulai menuju ke peraduan. Langit hari ini, cantik sekali. Tapi tak lagi
sama menurut Tanayu.
***
“Rasanya seperti sudah terjawab semua kenapa akhir-akhir ini
kamu berulah. Perasaan aku benar. Kamu nggak sehangat dulu,
kamu dingin dan berpura-pura. Kamu pernah menatapku,
seolah-olah aku ini manusia yang kamu kasihani. Aku lihat itu di
mata kamu. Tapi kenapa, kenapa kamu masih mempertahankan aku?
Kamu buat seolah-olah semuanya memang niat baik kamu. Harusnya kamu bilang,
kalau kamu sudah nggak punya rasa lagi sama aku. Kamu itu ya, suka
banget mempersulit hidup kamu sendiri. Kamu pergi sama aku, kamu
nggak tenang. Kamu pergi sama dia, apa kamu juga tenang? Kamu
takut ketemu semua orang. Sembunyi-sembunyi seperti orang bodoh.
Cukuplah menjadi bodoh. Kamu memang benar - benar pengecut.
Kamu kalah Gentle sama laki-laki yang mengaku dirinya nggak tertarik sama
perempuan. Kamu lebih rendah dari itu. Paham?” Tanayu sudah
mempersiapkan apa yang ingin dia ucapkan, laki – laki pengecut itu akan menemuinya.
Tanayu ingin meledak,
tapi faktanya laki-laki pengecut di depannya berlagak seperti tak pernah
terjadi apa-apa. Tanayu pikir dia akan meledak dan menangis di depan
Rezan dan kekasih barunya. Tapi, dia malah ingin tertawa, tertawa
atas kebodohannya selama ini. Tanayu hanya mengambil tas yang berisi buku
yang dipinjam Rezan, dulu. Buku ini amat berharga, sekali lagi,
Tanayu sudah gak peduli dengan perasaannya terhadap Rezan. Baginya
hanya buang-buang energi untuk memaki orang yang hanya menganggap orang lain
seperti sampah. Tanayu menghela nafas, dan mengendarai motornya,
tanpa sedikitpun melihat kebelakang. Sudah cukup terlihat bodoh
bagi kedua orang itu, dan dia tidak mau terlihat lebih bodoh di depan
banyak manusia. Tanayu ingin meminta semua penjelasan dan meledakkan semua
emosinya, tapi dia menetapkan hatinya untuk mencukupkan perasaannya
terhadap semuanya. Dia bertekat untuk mengikhlaskan dan memaafkan. Saat
dia sudah membalikan badan, baginya tak ada lagi kata kembali, ataupun mau
mendengarkan penjelasan tentang apapun.
***
Dua hari, waktu yang
cukup untuk menangisi apa yang sudah terjadi, Tanayu bangkit dari tempat
tidurnya, dia mencari ponselnya yang ternyata sudah tidak hidup dari beberapa
hari yang lalu. Matanya sembab, perutnya mulai terasa lapar. Sayup dia
mendengar suara Ibu sedang memasak, suara adiknya yang sibuk mencari kaos kaki
kesayangannya. Tanayu membuka tirai jendela kamarnya, memicingkan mata lalu
mengikat rambutnya. Dia ingat sudah dua hari dia mengurung diri di kamar. Tidak
melakukan apa – apa. Tanayu duduk sambil membuka poselnya yang sedang diisi
ulang baterainya, ada ratusan pesan singkat yang masuk, tapi dia sedang tidak
berniat untuk membalas pesan apapun, mengecek siapa saja yang melakukan pesan
suara untuknya. Matanya terpaku pada satu nama dalam daftar nomor yang
memanggilnya. Keenandra? Kening Tanayu mengereyit.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar