Postingan

[FOOD STORY] - MAKAN BEBEK PERTAMA KALI

Gambar
Hai Hai..  Kali ini mencoba keluar dari comfort zone nya aku. Pertama aku bakalan mencoba menulis tentang makanan.  Kedua makanan yang kali akan aku bahas adalah bebek. Sebagai seorang yang seumur hidup gak pernah makan bebek ini sebuah tantangan sih,  haha.  Soalnya setiap melihat teman makan bebek itu aku selalu mengereyit jijik (maaf)  karena katanya bebek itu amis dan alot. Selain doktrin bahwa rasa bebek yang aneh,  mungkin juga alam bawah sadar aku ngasih sugesti kalo bebek itu jorok,  karena sering lihat mereka yang super nyebelin waktu kecil dulu.  Sama kaya pertama kali nyoba lele,  bau tanahnya itu yang bikin aku gak suka dan juga pengalaman buruk tentang makanan lele.  Haha Kali ini aku diajak Harry dan Rensy buat makan bebek,  katanya Hary lagi pingin banget makan bebek,  dan Rensy tau kalo di depan kantornya ada Resto yang menyuguhkan Bebek goreng yang enak.  Tapi,  Harry sempet ragu aku mau apa engg...

[FIKSI] - PULANG part 1

Tanayu berdiri menunggu kereta cepat  MRT  yang akan membawanya ke  Harbour Front .  Pikirannya sedang tak karuan,  dadanya sesak,  matanya ingin menumpahkan seluruh isi kepalanya yang sebentar lagi akan meledak.  Dia menatap kakinya,  mencengkeram jari-jari tangannya sendiri,  yang merupakan pertanda bahwa dia sedang gugup dan kalut. Dia mengingat kembali apa yang membuatnya sekalut ini,  pesan singkat dari seseorang yang telah dipercayainya.   "Kita udahan aja, ya. Aku sudah punya yang baru."   Lalu,  seseorang itu mengganti fotonya dengan orang asing,  yang selama ini Dia kenal sebagai sepupu seseorang itu.  Kaki Tanayu melangkah lesu saat pintu  MRT  membuka,  dia akan pulang,  pulang ke rumah orang tuanya,  pulang untuk mendapatkan penjelasan dari semuanya,  tapi ada satu yang janggal dari pulangnya kali ini, rumahnya yang dulu,  Rezan,  yang Dia anggap rumah s...

[LIFE STORY] - KITA SAMA - SAMA BERSANDIWARA

Siapa yang paling bisa memahami dirimu? Ya, dirimu. Terutama aku. Yang masih amat sangat tertatih memahami diri sendiri. Hubungan laki – laki dan perempuan tidak pernah sederhana. Kau harus membagi waktumu untuk dirinya dan waktumu untuk dirimu sendiri. Menerima keluh kesahnya, baik buruk pasanganmu, dan masih banyak lagi, paham yang tak sependapat tapi harus kau terima dengan lapang dada dengan alasan cinta, kesetiaan, dan kepercayaan. Bagiku, keputusan setahun yang lalu, untuk membagi waktuku dengan orang lain mungkin keputusan yang tidak perlu disesali, walaupun sedikit sering menggerutu dibandingkan bersyukur, banyak hikmah yang akan diambil jika dipikir ulang. Entah berapa tahun aku menyindiri, mencintai diri sendiri, yang akupun bingung apa yang sebenarnya diri ini mau. Sampai akhirnya, aku bertanya – tanya sebenarnya apakah cinta itu ada? Atau hanya sekedar nyaman dan terbiasa bersama. Setahun kebelakang aku mencoba membagi waktu, untuk seseorang yang k...

[FIKSI] - PATAH HATI TERHEBAT

Pernah kau merasakan patah hati terhebat? Kapan? Dan dengan siapa? Perempuan itu menatap layar komputernya lama. Merenung, membayangkan apa yang salah dengan dirinya sehingga dia mengalami patah hati sehebat ini. Pikirannya membawanya kembali kemasa lampau, dulu sekali saat dirinya tau bahwa laki – laki yang suka memainkan wanita itu hanya ada di buku yang dia baca atau drama yang dia tonton. Ini bukan pertama kalinya dia mengalami patah hati, memang. Tapi ini yang terhebat. Satu – satunya laki – laki yang telah dia percaya mengkhianatinya seminggu yang lalu, oleh pengakuannya sendiri melalui pesan singkat. Hatinya hancur, bukan karena kehilangan, tapi karena kebohongan yang amat sangat rapi laki – laki itu simpan, kebohongan, kebohongan untuk pura – pura mencintai. Seketika dia merasa bodoh, kepercayaan kepada laki – laki yang telah lama tak dia punya, lagi – lagi diruntuhkan oleh laki – laki yang berpura – pura mencintainya. Dia menghela nafas dan tersenyum mencibir diri...

[FIKSI] - MENCOBALAH

     Hujan rintik, aku mengendarai pelan mobilku. Setelah aku pikir, betapa bodohnya apa yang aku lakukan ini, tengah malam nekat ke kafe (yah, kafe kecil tepatnya, diujung komplek perumahanku). Aku memakirkan mobilku, mematikan mesin, dan mengambil buku yang aku baca sebelum ide tolol ini datang. Aku menutup kepalaku dengan jaket, lalu berlari kecil menuju kafe yang dengan pencahayaan temaram. Sudah sepi.      Saat aku membuka pintu, bunyi gemerincing mainan berasal dari alumunium menyambutku. Aku melihat sekeliling, hanya ada satu penjaga kafe, dan laki-laki duduk membelakangi pintu.       “Hai, Tris, seperti biasa!” Kataku       “What are you doing here ?” Tris dengan muka sedikit mengantuk sedikit kaget.       “Drink some cup of tea! Anything else ? Aku mengangkat bahu.       "In the midnight ?” Matanya menatapku tetapi tangannya sibuk meracik pesananku.   ...

[FIKSI] - BAGAIMANA AKHIRNYA

      “Arrrggghhhh” aku mengerang sambil mengusap air mata.       “Kau kenapa ?” Kata Reno, sahabatku yang sedari tadi bolak-balik bertanya hal yang sama.       “Mengapa Augustus Waters harus mati, harusnya dia bisa hidup lebih lama lagi, harusnya dia bisa menikah dengan Hazel Grace, lalu punya anak yang lucu, dan walaupun pada akhirnya mereka berdua meninggal karena kanker itu, tapi setidaknya mereka berdua punya sesuatu yang membuktikan bahwa mereka pernah bersatu.” Kataku panjang lebar.       “Kau selalu begitu, selalu saja tidak terima jika buku yang kau baca berakhir dengan tidak bahagia.” Reno mengambil buku yang baru saja aku baca. “Akan aku coba baca buku ini, lalu kita bahas bersama-sama.” Ujarnya, lalu menyimpan buku itu ke dalan tasnya. “Kau haus ?” Katanya.       “Yap, aku butuh segelas greentea latte dingin, untuk mengembalikan air mataku yang hilang tadi.” Kataku, lalu aku menyambut...

[FIKSI] - TUAN NONA KESEPIAN

      T uan kesepian, tak punya teman, hatinya rapuh, tapi berlagak tangguh       Namanya Gio, dia salah satu laki-laki yang tak berkawan, bukan tak berkawan dalam artian dia tidak punya teman, tapi dia tidak punya kawan untuk mencurahkan rasa sayangnya kepada lawan jenis. Wajahnya tidak buruk, kehidupannya juga termasuk beruntung, dia kerja di salah satu perusahaan swasta terbesar di Negara ini, sudah mapan, gajinya sudah lebih dari cukup untuknya sendiri.        "Jangan terlalu pemilih, Bro. Nanti gak nikah-nikah baru tau rasa.”       Kuping Gio panas mendengar perkataan Kevin yang setiap hari itu-itu saja.        "Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, masih belum terlalu mikir untuk nikah, masih terlalu muda, Bro.” Gio menyeruput Es Teh manisnya sampai habis, lalu pergi meninggalkan Kevin, yang masih asyik dengan mie ayamnya.      Gio berjalan menyusuri tam...